Jenis Pajak, Ciri-Ciri dan Fungsi Pajak di Indonesia

by | Dec 20, 2019 | Blog, Pajak | 0 comments

Jenis pajak yang berlaku di Indonesia memiliki beberapa ciri dan fungsi masing-masing. Pajak merupakan pungutan wajib yang dibayarkan oleh rakyat untuk negara untuk digunakan kembali bagi kepentingan umum.

Rakyat yang taat membayar pajak memang tidak akan merasakan dampaknya secara langsung karena pajak digunakan untuk kepentingan umum. Selain itu pajak merupakan sumber dana pemerintah untuk melakukan pembangunan.

Ciri-ciri Pajak

Berikut ini merupakan ciri-ciri dari pajak, di antaranya:

1. Merupakan Kontribusi Wajib Warga Negara

Pajak berlaku bagi setiap warga negara pada umumnya, namun lebih spesifik bagi warga negara yang sudah memenuhi syarat objektif dan subjektif. Maksudnya adalah bagi warga negara yang sudah memiliki penghasilan lebih dari Rp 2.050.000 per bulan.

Jika anda merupakan pegawai negeri atau swasta yang memiliki penghasilan lebih dari Rp 2 juta maka diwajibkan untuk membayar pajak.

Berbeda lagi jika anda merupakan pengusaha, maka setiap penghasilan yang didapatkan akan dikenakan pajak sebesar 1% dari total penghasilan. Jumlah  tersebut ditetapkan berdasarkan peraturan pemerintah yaitu PP 46 tahun 2013.

2. Bersifat Memaksa untuk Setiap Warga

Jika seorang warga negara telah memenuhi syarat subjektif dan objektif akan diwajibkan untuk membayar pajak. Bahkan dalam undang-undang sudah dijelaskan jika warga negara dengan sengaja tidak membayar pajak yang seharusnya dibayarkan akan mendapatkan sanksi. Ancaman sanksi tersebut bisa berupa sanksi administratif atau ancaman secara pidana.

3. Warga Negara tidak Mendapat Imbalan secara Langsung

Membayar pajak berbeda dengan membayar retribusi sehingga dampak yang diberikan tidak bisa dirasakan secara langsung bagi perorangan. Pajak merupakan salah satu cara pemerataan pendapatan warga negara.

Dengan begitu, jika seseorang membayar pajak dalam jumlah tertentu akan mendapatkan imbalan berupa perbaikan jalan, sarana dan lain sebagainya. Artinya dampak yang diberikan berbeda dengan biaya retribusi yang anda berikan untuk fasilitas tertentu.

Jenis Pajak yang Dipungut Pemerintah dari Masyarakat

Jenis Pajak Berdasarkan Sifat

Berdasarkan sifatnya, pajak digolongkan menjadi 2 yaitu pajak langsung dan juga pajak tidak langsung. Pajak langsung atau indirect Tax merupakan pajak yang diberikan bagi wajib pajak ketika melakukan peristiwa dan perbuatan tertentu.

Dengan begitu, pajak tidak langsung tidak bisa dipungut secara berkala namun hanya bisa dipungut bila terjadi peristiwa atau kejadian tertentu. Contoh dari jenis ini adalah pajak penjualan barang mewah, yang mana pajak ini hanya diberikan saat menjual barang mewah.

Baca juga : Jenis Laporan Keuangan

Sedangkan pajak langsung atau direct tax merupakan pajak yang diberikan secara berkala bagi wajib pajak sesuai dengan surat ketetapan pajak yang ada. Dalam surat ketetapan pajak, tercantum jumlah pajak yang harus dibayarkan oleh setiap wajib pajak.

Pajak langsung wajib ditanggung oleh seseorang yang terkena wajib pajak serta tidak bisa dialihkan pada pihak lain. Contoh dari jenis pajak ini adalah pajak bumi dan penghasilan serta pajak penghasilan. Pajak tersebut harus dibayarkan oleh warga negara yang terdaftar sebagai wajib pajak.

Pajak Berdasarkan Instansi Pemungut

Berdasarkan jenis instansi pemungutannya, pajak dibagi menjadi dua jenis yaitu pajak negara dan pajak daerah. Pajak daerah atau pajak lokal merupakan pajak yang diambil oleh pemerintah daerah dan terbatas pada rakyat daerah tersebut.

Daerah tersebut bisa meliputi Pemda Tingkat II atau Pemda Tingkat I. Contoh dari pajak ini adalah pajak hotel, pajak restoran, pajak hiburan dan lain sebagainya.

Sedangkan pajak negara atau pusat adalah pajak yang diambil pemerintah pusat melewati instansi yang terkait. Instansi-instansi tersebut diantaranya adalah dirjen pajak, kantor inspeksi pajak, Dirjen Bea dan Cukai yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia.

Pajak Berdasarkan Subjek dan Objek Pajak

Dalam penggolongan ini, pajak dibedakan menjadi dua yaitu pajak objektif dan pajak subjektif. Pajak objektif merupakan pajak yang diambil berdasarkan objeknya. Contoh dari pajak ini adalah pajak impor, bea baterai, pajak kendaraan motor, dan beberapa pajak lainnya.

Selanjutnya, sesuai dengan namanya pajak subjektif merupakan pajak yang diambil berdasarkan subjeknya. Adapun contoh dari pajak ini adalah pajak penghasilan dan pajak kekayaan.

Setiap pengadministrasian yang ada hubungannya dengan pajak pusat akan dilaksanakan di kantor pelayanan pajak (KPP), dan kantor wilayah direktorat jenderal pajak.

Sedangkan untuk administrasi yang berhubungan dengan pajak daerah akan dilaksanakan di kantor dinas pendapatan daerah. Selain itu bisa juga dibayarkan melalui kantor pajak daerah yang dinaungi pemerintah daerah.

Baca juga : Macam – Macam Software Akuntansi

Fungsi Pajak bagi Negara dan Masyarakat

Pajak memiliki fungsi dan peran yang signifikan dalam keberlangsungan negara terutama bagi pembangunan. Pajak dijadikan sebagai sumber pendapatan dan pemasukan negara untuk membiayai setiap pengeluaran yang dibutuhkan.

Salah satu fungsi terbesar dari pajak adalah untuk biaya pembangunan. Berikut ini adalah beberapa fungsi pajak bagi negara.

1. Fungsi Budgeter (Fungsi Anggaran)

Pajak adalah sumber pemasukan keuangan negara yang dilakukan dengan cara mengumpulkan dana dari wajib pajak. Nantinya pajak atau kas termasuk akan masuk dalam kas negara untuk membiayai pembangunan nasional dan pengeluaran negara.

Dengan begitu, pajak adalah sumber pendapatan  bagi negara yang memiliki tujuan untuk menyeimbangkan pendapatan negara dengan pengeluaran negara.

2. Fungsi Regulasi (Fungsi Mengatur)

Pajak adalah alat yang digunakan untuk melaksanakan atau mengatur kebijakan negara dalam lapangan baik bidang ekonomi atau sosial. Fungsi pajak untuk mengatur ini terletak pada pajak yang bisa menghambat laju inflasi.

Selain itu pajak juga menjadi alat yang mendorong kegiatan ekspor dan memberikan proteksi terhadap barang produksi dalam negeri.

3. Fungsi Pemerataan

Fungsi ini terletak pada pajak yang bisa digunakan untuk menyesuaikan antara pembagian pendapatan dengan kesejahteraan masyarakat.

4. Fungsi Stabilisasi

Fungsi ini digunakan ketika pajak digunakan sebagai alat untuk menstabilkan kondisi dan keadaan perekonomian. Contohnya adalah ketika pajak digunakan untuk mengatasi inflasi, atau ketika pemerintah menetapkan pajak yang tinggi.

Dengan begitu jumlah uang yang beredar bisa dikurangi. Sebaliknya, untuk mengatasi deflasi pemerintah akan menurunkan pajak dan menambah uang yang diedarkan.

Dari fungsi-fungsi diatas, adalah fungsi pajak yang banyak dijumpai di beberapa negara. Di negara kita, fungsi pajak lebih ditekankan pada 2 fungsi pajak yang pertama.

Tanggung jawab bagi pembayaran pajak ini terletak pada masing-masing masyarakat untuk memenuhi kewajiban tersebut.

Bagi sebagian masyarakat atau bahkan perusahaan, menghitung dan melaporkan pajak bukan salah satu hal yang mudah. Namun di zaman yang modern seperti saat ini, pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan satu aplikasi software pajak saja. Dengan adanya aplikasi finata, wajib pajak bisa melaporkan dan membayar pajak dengan mudah.

Jenis pajak yang tertulis diatas bisa dilaporkan dan dibayar dengan aplikasi yang secara otomatis akan menghitung dan melaporkan pajak anda. Pelaporan dan penghitungan tersebut dilihat berdasarkan setiap aktifitas yang anda lakukan didashbor Anda.

Finata juga sudah dilengkapi dengan berbagai fitur yang memudahkan pekerjaan anda. Tunggu apalagi, di zaman yang modern seperti saat ini saatnya bagi kita untuk menggunakan aplikasi yang akan mempermudah tanggung jawab kita.

Follow us:

finata software akuntansi dan keuangan bisnis

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

done for you finata
finata software akuntansi dan keuangan bisnis

E-Book Gratis

7 Kesalahan Fatal Dalam Mengelola Keuangan Bisnis

ebook gratis finata software akuntansi dan keuangan bisnis

Download