GMP : Pengertian, Jenis, dan Manfaatnya

by | Jul 14, 2021 | Bisnis, Blog | 0 comments

good-manufacturing-practice-gmp

GMP atau Good Manufacturing Practices merupakan sebuah hal dalam dunia industri yang sangat penting dan telah diatur oleh pemerintah. Namun, banyak pemilik bisnis industri ini mengabaikan GMP.

Nah, bagi Kamu yang mau memulai atau sedang menjalankan bisnis kuliner, obat-obatan, atau sejenisnya, sebaiknya kamu pelajari dahulu mengenai GMP ini.

Pengertian GMP

Good Manufacturing Practices (GMP) adalah suatu konsep manajemen yang berbentuk prosedur dan cara kerja dalam menghasilkan produk dengan baik yang akan dijual kepada konsumen.

GMP di Indonesia dikenal dengan nama Cara Produksi yang Baik (CPB). Perbedaan istilah ini hanya dikarenakan perbedaan bahasa yang digunakan saja. Yang jelas, GMP diterapkan untuk mengontrol kualitas produksi suatu perusahaan agar memenuhi standar yang ada sebelum dikonsumsi oleh konsumen.

Jenis GMP atau CPB di Indonesia

Ada beberapa jenis GMP atau CPB yang digunakan di Indonesia. Perbedaan jenis ini tergantung dari jenis perusahaan dan produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Jenis GMP atau CPB ini antara lain adalah :

– CPOB

CPOB adalah Cara Pembuatan Obat yang Baik. CPOB merupakan standar GMP yang mengatur tata cara memproduksi obat-obatan secara baik dan benar.

– CPMB

CPMB adalah Cara Produksi Pangan yang Baik. Merupakan standar GMP yang mengatur tata cara memproduksi makanan atau kuliner.

– CPKB

CPKB adalah Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik. CPKB merupakan standar GMP yang mengatur tata cara memproduksi produk kosmetik.

– CPOTB

CPOTB adalah Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik. CPOTB merupakan standar GMP yang mengatur tata cara memproduksi obat-obatan tradisional (obat herbal) secara baik.

Manfaat dan Tujuan GMP

Industri kuliner diwajibkan untuk menerapkan GMP karena memiliki banyak tujuan dan manfaatnya. Tujuan dan manfaat ini berlaku bagi produsen, konsumen, bahkan untuk pemerintah. Beberapa tujuan dan manfaat GMP adalah sebagai berikut :

– Keselamatan Konsumen

GMP diatur sedemikian rupa oleh para ahli dan disetujui oleh berbagai pihak. Penerapan GMP ini adalah untuk menjamin produk yang dihasilkan dapat dipergunakan oleh konsumen secara aman dan tidak berbahaya.

– Pengetahuan Produk

Proses GMP dapat membantu konsumen dalam mencari tahu secara rinci detail produk yang akan dikonsumsi. Detail produk ini dapat berupa komposisi, tanggal kadaluarsa, tanggal produksi, dan lain sebagainya.

– Melindungi Pangsa Pasar

Marketing yang terbaik adalah testimoni atau ulasan positif dari konsumen. Penerapan GMP ini dapat membantu perusahaan dalam meninggalkan kesan baik untuk konsumen.

Kekecewaan konsumen atas produk yang dimiliki akan berdampak buruk bagi perusahaan dan dapat merusak produk di pasar lainnya.

– Kepercayaan Konsumen

Konsumen adalah tujuan dari produk yang diproduksi. Bila konsumen dapat merasakan manfaat dari produk maka akan membuat kepercayaan konsumen pada produk meningkat. Hal tersebut menjadi alasan konsumen untuk mengkonsumsi produk lain perusahaan tersebut.

– Tujuan Perusahaan

Mencapai tujuan perusahaan adalah hal yang sulit untuk diraih. Dengan penerapan GMP yang benar, maka akan meningkat kepercayaan dan minat beli konsumen sehingga tujuan perusahaan akan dapat segera diraih.

– Mengurangi Biaya Beban Operasional

Dengan penerapan GMP yang baik, maka dapat membantu perusahaan dalam mengurangi biaya beban yang tidak diperlukan dan meminimalisir biaya-biaya yang tidak ada dalam GMP.

Struktur GMP

Sebagaimana yang telah disebutkan pada awal artikel, GMP pada makanan dan minuman di Indonesia telah diatur pemerintah melalui undang-undang.

Standar  yang digunakan untuk GMP pada produksi kuliner di Indonesia adalah SK MENKES dengan nomor : No.23/MENKES/I/1978.

Standar ini disebut CPMB (Cara Produksi Makanan yang Baik), dengan susunan sebagaimana berikut:

  1. Lokasi pabrik
  2. Bangunan
  3. Fasilitas Sanitasi
  4. Peralatan Produksi
  5. Bahan
  6. Produk Akhir
  7. Laboratorium
  8. Higiene karyawan
  9. Wadah kemasan
  10. Label
  11. Penyimpanan
  12. Pemeliharaan sarana pengelolaan dan kegiatan sanitasi
  13. Kualitas pengiriman

 

Standar berikutnya mengacu pada peraturan pemerintah, yaitu : PP No. 28 tahun 2004 pasal 8, yang memuat aturan mengenai :

  • Mengatur cara meletakan bahan pangan (mentah maupun jadi) dalam lemari atau rak masing-masing secara terpisah, dengan tujuan agar tidak terjadi pencemaran silang. Beberapa bahan makanan memang tidak disarankan untuk saling bersentuhan, misalnya antara sayur mentah dan daging mentah.
  • Mengendalikan stok penerimaan bahan mentah dan penjualan barang jadi.
  • Mengatur perputaran stok pangan sesuai dengan masa kadaluarsanya, diutamakan stok yang lama untuk segera digunakan atau dibuang jika tidak sesuai standard.
  • Memperhatikan situasi dan kondisi tempat penyimpanan pangan untuk menjaga mutu dan kualitas. Situasi yang dimaksud adalah pemeriksaan suhu, tekanan udara, kelembaban, dan lain sebagainya.

 

Standar GTP

Terkait kualitas pengiriman, ada standar tersendiri yang mengaturnya yaitu dalam GTP (Good Transportation Procedure).

GTP adalah standar yang mengatur pengiriman dan pengangkutan yang baik.

Tujuan dari GTP adalah agar dalam pengiriman mampu untuk menjaga agar ketika produk sampai tempat tujuan tetap aman dan memiliki kualitas yang sama seperti sebelum produk tersebut dikirim.

GTP sendiri juga tercantum dalam undang-undang yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia, yaitu : UU no. 7 tahun 1996.

Berdasarkan undang-undang nomor 7 tahun 1996 tersebut, terdapat pengertian :

Pengangkutan pangan adalah suatu kegiatan atau serangkaian kegiatan yang memiliki tujuan untuk memindahkan hasil pangan atau bahan pangan dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan menggunakan berbagai cara atau sarana angkutan apapun baik dalam rangka untuk memproduksi pangan, mengedarkan pangan, dan atau penjualan pangan.

UU no. 7 tahun 1996

Artinya, pengiriman tidak hanya menyangkut pengiriman barang jadi, namun pengiriman bahan baku atau bahan mentah juga termasuk dalam standar GMP.

Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas makanan dan minuman yang akan dihasilkan sesuai dengan persyaratan standar yang disepakati.

Setiap perusahaan manufaktur harus memiliki perencanaan produksi yang matang dan tepat sesuai dengan GMP demi keefisiensian dan kelancaran proses produksi. Selain perencanaan yang matang, dalam eksekusi atau prakteknya juga harus diperhatikan. Contohnya dalam hal pencatatan keuangan atau akuntansi, memonitor proses produksi dan lain-lain.

Dalam hal pencatatan keuangan, Finata sebagai software akuntansi dan bisnis bisa menjadi solusi bagi perusahaan manufaktur. Di dalamnya terdapat fitur pencatatan barang komposit, inventory, dan pencatatan produksi.

Demikian beberapa poin tentang perencanaan produksi. Dengan mengikuti poin-poin tersebut diharapkan proses produksi dan bisnismu akan menjadi lebih mudah.

Ayo cek youtube Finata dan pelajari lebih banyak tentang Bisnis, Akuntansi, Keuangan, dan Pajak bersama Finata.

Share:

finata software akuntansi dan keuangan bisnis

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Konten Premium Finata Gratis!

Subscribe blog Finata untuk mendapatkan konten seputar keuangan bisnis, akuntansi, hingga pajak yang dirangkum untuk Anda.

Melek Finansial Bersama Finata: Akuntansi & Penerapannya Menggunakan Software
DISKON TERBATAS !! Sampai dengan 31 Juli 2021
Hanya Rp 199.000,-
Diskon 60%+60% Khusus Selama PPKM
Hanya Rp 199.000,-
Melek Finansial Bersama Finata: Akuntansi & Penerapannya Menggunakan Software
Diskon 60%+60% Khusus Selama PPKM
DISKON TERBATAS !! Sampai dengan 20 Juli 2021
× Butuh Bantuan? Available on SundayMondayTuesdayWednesdayThursdayFridaySaturday