Cara Membuat Jurnal Umum Dalam Ilmu Akuntansi
Cara Membuat Jurnal Umum

Cara Membuat Jurnal Umum
Cara Membuat Jurnal Umum

Cara
membuat jurnal umum
cukup mudah bagi seseorang yang berprofesi
sebagai akuntan. Namun, bagi mereka yang masih awam dengan ilmu akuntansi,
tentunya merasa kesulitan dan kewalahan dalam menyusunnya. Padahal, jurnal umum
menjadi tahap yang paling mendasar dalam menyusun sebuah laporan keuangan.

Banyak ilmu dasar yang harus dipelajari sebagai pedoman saat mengidentifikasi setiap transaksi yang terjadi. Kesalahan dalam melakukan identifikasi dalam penyusunan jurnal umum, maka siklus selanjutnya otomatis akan keliru. Oleh sebab itu, penting sekali untuk memahami ilmu dasar akuntansi sebagai pedoman awal dalam menyusun keuangan di setiap periode.

Langkah
Mudah Mempelajari Cara Membuat Jurnal Umum Dalam Siklus Akuntansi

Dalam pembuatan jurnal
umum, ada tahap-tahap yang harus Anda lalui supaya lebih mudah dalam
memahaminya. Berikut ini beberapa metode atau tahapan yang harus dikuasai saat
menganalisis suatu transaksi keuangan:

Memahami sifat masing-masing akun pada jurnal umum  

Terdapat banyak
nama-nama akun yang digunakan dalam pembuatan jurnal umum. Anda harus
mengetahui sifat serta karakteristik dari akun tersebut. Secara garis besar,
akun akan bertambah manakala berada pada posisi normal atau sering disebut
dengan istilah saldo normal. Perhatikan tabel yang tertera di bawah ini agar
mudah dalam memahami sifat dari setiap akun.

Tabel karakteristik
setiap akun

Nama
Akun
Debet Kredit Saldo
Normal
Aktiva (Asset) + Debet
Kewajiban (Hutang) + Kredit
Modal (Ekuitas) + Kredit
Pendapatan (Revenue) + Kredit
Beban (biaya) + Debet
Prive + Debet

Catatan penting:

Tabel di atas sangat membantu Anda untuk menempatkan
akun pada jurnal umum. Saldo normal menunjukkan bahwa akun
tersebut akan bertambah pada posisi tertentu. Sebaliknya, akun akan ditempatkan
pada posisi yang berlawanan manakala terjadi pengurangan. Itulah pentingnya
memahami setiap karakteristik transaksi.

Jika Anda masih
bingung, mari ambil contoh dari salah satu akun tersebut. Saya akan mengambil
contoh akun kewajiban atau hutang. Ketika perusahaan Anda berhutang peralatan
atau mesin kepada pihak lain, maka secara otomatis hutang Anda bertambah.
Pencatatannya harus berada di posisi kanan atau kredit. Namun, ketika Anda
melunasi hutang mesin tersebut, pencatatan akun hutang harus diletakkan di
sebelah kiri atau debet. Secara
jelas dapat Anda lihat pada tabel di bawah ini.

Mencatat Transaksi Hutang atas pembelian Peralatan(mesin)

Akun Debet Kredit
Peralatan
(Mesin)
Rp1.000.000,-  
                      Hutang   Rp1.000.000,-

Mencatat Transaksi saat Pembayaran hutang

Akun Debet Kredit
Hutang Rp1.000.000,-  
                      Kas   Rp1.000.000,-

Keterangan:

Akun kas menggambarkan jika ada uang yang dikeluarkan oleh perusahaan tersebut untuk membayar hutang peralatan (mesin).

Baca juga : Tahapan Menyusun Laporan Keuangan dengan Benar dan Tepat

Mengumpulkan bukti-bukti transaksi

Cara
membuat jurnal umum
sebagai dasar pembuatan laporan keuangan
harus berdasarkan bukti-bukti transaksi yang terjadi. Bukti transaksi yang
jelas menjadi salah satu wujud sistem pengendalian managemen keuangan untuk
menghindari kecurangan atau fraud. Bentuk dari bukti transaksi sendiri
bermacam-macam, seperti nota, faktur, kwitansi, bilyet giro, cek, bukti
memorandum, rekening koran, dan lain sebagainya. Alangkah baiknya jika
perusahaan Anda memiliki kertas bukti transaksi resmi yang dicetak sendiri agar
tidak mudah dimanipulasi oleh pihak lain. 
 

Proses pengumpulan
bukti transaksi tersebut berlaku untuk transaksi yang bersifat internal serta
eksternal. Adapun transaksi internal meliputi segala sesuatu yang terjadi di
dalam perusahaan, seperti pembelian mesin, peralatan, biaya sewa gedung, gaji
karyawan, dan lain-lain. Berbeda dengan transaksi eksternal yang tak lain
adalah penjualan barang atau jasa dari perusahaan itu sendiri. Jika suatu saat
nanti terjadi problem pada hasil laporan keuangan yang tidak balance maka bisa
dilakukan kroscek lewat bukti transaksi yang ada.

Mengidentifikasi setiap transaksi

Langkah selanjutnya
dalam pembuatan jurnal umum adalah mengidentifikasi setiap bukti transaksi.
Tugas ini memang harus dilakukan oleh orang yang mumpuni di bidang pembukuan. Pasalnya, tidak sembarang
orang dapat memahami berbagai bentuk bukti transaksi yang ada. Dibutuhkan
analisa serta identifikasi yang mendalam agar menghindari terjadinya kekeliruan.
Kesalahan yang terjadi pada proses identifikasi akan berakibat cukup fatal.

Hal yang perlu Anda
ketahui terlebih dahulu sebelum membuat bukti transaksi yaitu tidak semua
kegiatan atau transaksi bisa dibuat jurnal umum. Hanya transaksi yang dapat
berpengaruh dalam posisi keuangan dan dapat dihitung dalam satuan uang saja
yang dapat dicatatat dalam jurnal. Adapun transaksi-transaksi lain yang tidak
dapat diubah dalam satuan moneter tak dapat dilaporkan dalam jurnal. Secara
umum, transaksi yang dapat dijurnal digambarkan dalam sebuah persamaan rumus dasar
yaitu: Aktiva = Hutang + Modal

Membuat jurnal umum

Setelah terkumpul semua
bukti transaksi dan telah dilakukan identifikasi, langkah paling akhir adalah
membuat jurnal umum. Istilah yang digunakan untuk aktivitas membuat jurnal umum
sering disebut penjurnalan. Sistem pencatatan dalam aktivitas perjurnalan
bersifat double entry. Maksud dari istilah tersebut adalah setiap transaksi
akan berpengaruh pada dua sisi langsung yaitu debet dan kredit. Agar lebih
memahami, berikut ini beberapa contoh spesifik dalam kegiatan penjurnalan:

Transaksi 1: Tanggal 10
November 2019, Ibu Alya memberikan uang investasi sebesar Rp100.000.000,- kepada
PT. Jaya Abadi.

Hasil identifikasi:
Uang investasi yang diberikan Ibu Alya ke perusahaan dicatat sebagai modal
sehingga berada di sebelah kredit. Sejumlah uang yang didapatkan perusahaan
akan menambah kas sehingga dicatat dalam bentuk akun kas di sebelah debet.

Tanggal Akun Debit Kredit
10 /11/2019 Kas Rp100.000.000,-
                   Modal Rp100.000.000,-

Transaksi 2: Pada tanggal 12 November 2019, PT. Jaya Abadi memperoleh pendapatan dari penjualan barang secara tunai sebesar Rp500.000,-.

Baca juga : Manfaat Neraca Saldo yang Beraneka Ragam

Hasil identifikasi:
Bertambahnya pendapatan atau revenue yang diperoleh perusahaan akan berpengaruh
langsung pada saldo kredit. Pendapatan tersebut juga akan menambah jumlah kas
perusahaan sehingga menjadi saldo debet transaksi tersebut.

Tanggal Akun Debit Kredit
12 /11/2019 Kas Rp500.000,-
         Pendapatan   Rp500.000,-

Transaksi 3: Pada tanggal
15 November, Pak Budi selaku salah satu investor PT. Jaya Abadi meminjam uang
perusahaan untuk kebutuhan pribadinya sebesar Rp2.000.000,-.

Hasil identifikasi: Kas
perusahaan yang dipinjam untuk kebutuhan pribadi disebut dengan istilah prive.
Saldo normal prive berada di sisi debet dan disandingkan dengan kas yang
mengalami pengurangan.

Tanggal Akun Debit Kredit
15 /11/2019 Prive Rp2.000.000,-
                 Kas Rp2.000.000,-

Transaksi 4: Pada
tanggal 25 November, PT. Jaya Abadi memberikan gaji kepada semua pegawainya
dengan total biaya sebesar Rp20.000.000,-.

Hasil identifikasi:
Pemberian gaji karyawan termasuk dalam transaksi internal berupa biaya-biaya
yang diletakkan di akun debet dan secara langsung mengurangi kas.  

Tanggal Akun Debit Kredit
25 /11/2019 Biaya Gaji Rp20.000.000,-
               Kas   Rp20.000.000,-

Cara membuat jurnal umum yang tepat dan akurat dibutuhkan pemahaman serta analisa mendalam. Bagi Anda yang masih merasa kesulitan dalam sistem perjurnalan, Finata siap membantu dan membimbing Anda dalam mengelola keuangan bisnis. Finata menyediakan beragam aplikasi software keuangan yang mudah dan user friendly.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

software analisa keuangan bisnis