Akuntansi Perpajakan: Pengertian Fungsi dan Contohnya

by | May 3, 2021 | Pajak, Akuntansi | 0 comments

akuntansi-perpajakan

Akuntansi perpajakan merupakan salah satu dari berbagai macam cabang dari akuntansi. Jenis akuntansi ini merupakan pengetahuan penting yang harus dipahami oleh wajib pajak. Akuntansi perpajakan diperlukan untuk mendapatkan perhitungan pajak yang akurat.

Pengertian Akuntansi Perpajakan

Akuntansi perpajakan adalah aktivitas pencatatan keuangan pada sebuah perusahaan atau lembaga yang bertujuan untuk mengetahui jumlah pajak yang harus dibayarkan.

Pada dasarnya, akuntansi biasa dan akuntansi perpajakan memiliki cara kerja yang hampir sama. Hanya saja, akuntansi biasa itu menghasilkan laporan keuangan sedangkan akuntansi perpajakan menghasilkan laporan pajak.

Fungsi Akuntansi Perpajakan

Selain berfungsi sebagai alat untuk mengetahui besaran pajak yang harus dibayarkan oleh wajib pajak, akuntansi perpajakan juga memiliki fungsi lain, yaitu :

  1. 1
    Sebagai dokumentasi perpajakan tahunan yang biasa digunakan untuk perbandingan dan mengetahui riwayat keuangan perusahaan.
  2. 2
    Sebagai bahan analisis untuk mengetahui besaran pajak yang harus dibayar perusahaan di masa yang akan datang.
  3. 3
    Sebagai laporan keuangan resmi yang bisa kita paparkan saat ingin mendapatkan investor atau kegiatan publik lainnya.
  4. 4
    Strategi menganalisa pajak dan perencanaan di masa depan.

Prinsip Akuntansi Perpajakan

1. Kesatuan

Prinsip ini menyatakan bahwa sebuah perusahaan merupakan satu kesatuan ekonomi yang tidak dapat disatukan dengan entitas ekonomi lain yaitu pemilik perusahaan atau lembaga lain yang secara hukum tidak memiliki hak.

2. Historis

Prinsip historis mengharuskan pencatatan keuangan secara real terhadap pembiayaan sebuah barang atau aset. Misalnya, apabila perusahaan membeli sebuah bangunan seharga Rp250.000.000 tetapi dalam proses negosiasi akhirnya didapatkan harga Rp200.000.000 maka pencatatan yang harus dibukukan adalah senilai Rp200.000.000 sesuai kesepakatan akhir yang dibayarkan.

3. Pengungkapan Penuh

Untuk mendapatkan hasil yang akurat, setiap pencatatan aktivitas keuangan harus disajikan secara informatif dan detail. Bahkan kalau perlu, tambahkan catatan kaki atau lampiran penting sebagai referensi.

Setelah memahami prinsip akuntansi perpajakan, diharapkan risiko kesalahan dan ketidakakuratan pencatatan data pajak bisa diminimalkan, bahkan dihilangkan.

Klasifikasi Pajak

Sebelum memulai pencatatan, sebuah perusahaan atau lembaga wajib mengetahui jenis pajak terutang yang menjadi kewajiban dibayarkan. Untuk memudahkan, berikut klasifikasi pajak berdasarkan cara pemungutannya:

1. Pajak langsung

Pajak ini dikenakan berdasarkan jumlah penghasilan atau kekayaan yang dimiliki sebuah perusahaan atau lembaga. Adapun besarannya telah diatur dalam Undang-Undang Perpajakan. Pajak langsung biasanya harus dibayarkan oleh wajib pajak dan tidak boleh diwakilkan atau dibebankan pada orang atau instansi lain.

 

2. Pajak tidak langsung

Pajak tidak langsung adalah pajak yang dibayarkan saat terjadi sebuah transaksi keuangan. Pajak semacam ini bisa diwakilkan atau dibebankan kepada orang lain.

Contoh sederhana pajak tidak langsung adalah pembelian barang di mal atau pusat perbelanjaan. Harga yang kita bayar biasanya sudah termasuk pajak sehingga kita tidak perlu lagi membayar pajak ke pemerintah.

Contoh Perhitungan Akuntansi Perpajakan

Langkah selanjutnya yang bisa dilakukan untuk lebih menguasai topik ini adalah dengan mempelajari cara perhitungannya.

Banyak variabel yang harus dilengkapi sebelum menghitung besaran pajak yang harus dibayarkan. Misalnya, untuk menghitung pajak terutang, maka harus diketahui dulu berapa jumlah setoran pajak penghasilan (PPh) karyawan, berapa penghasilan kena pajak (PKP), dan berapa jumlah wajib pajaknya.

Untuk menghitung pajak terutang, Anda bisa menggunakan rumus berikut ini:

25% x PKP = PPh badan

PPh Badan – PPh – PPh Pasal 23 = utang pajak

Agar lebih memudahkan memahami penerapan rumus tersebut, berikut ini contoh soal yang bisa Anda pelajari:

PT Abadi memiliki penghasilan kotor sekitar 50 miliar, dengan PPh sekitar 2 miliar, PPh Pasal 23 sebesar 1 miliar, dan pengeluaran sebanyak 22 miliar. Untuk mengetahui berapa PKP perusahaan, kurangi penghasilan kotor dengan pengeluaran.

Berdasarkan rumus tersebut berarti PKP PT Abadi :

50 miliar–22 miliar= 28 miliar.

Jadi pajak terutang PT Berkah adalah:

25% x 28 miliar = 7 miliar

7 miliar – 2 miliar – 1 miliar = 4 miliar.

Contoh perhitungan di atas hanyalah gambaran umum sistem akuntansi untuk menghitung utang pajak. Menghitung pajak secara manual memang menyulitkan. Apalagi jika jumlah wajib pajak yang harus dihitung cukup banyak.

Software akuntansi dapat dengan mudah membantu Anda dalam menghitung laporan keuangan sebuah perusahaan. Hanya dengan melakukan penginputan data saja, maka dengan otomatis perhitungan untuk semua laporannya akan dibuat.

Selain itu dengan menggunakan software akuntansi yang memiliki fitur diagnosis bisnis, secara mudah juga Anda dapat melihat kesehatan keuangan perusahaan Anda. Dengan begitu, Anda dapat mengambil keputusan bisnis dengan tepat.

Jangan lupa follow instagram dan subscribe youtube kita untuk mendapatkan berbagai info menarik mengenai akuntansi, keuangan, bisnis, dan lainnya.

Share:

finata software akuntansi dan keuangan bisnis

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan Konten Premium Finata Gratis!

Subscribe blog Finata untuk mendapatkan konten seputar keuangan bisnis, akuntansi, hingga pajak yang dirangkum untuk Anda.

Melek Finansial Bersama Finata: Akuntansi & Penerapannya Menggunakan Software
DISKON TERBATAS !! Sampai dengan 31 Juli 2021
Hanya Rp 199.000,-
Diskon 60%+60% Khusus Selama PPKM
Hanya Rp 199.000,-
Melek Finansial Bersama Finata: Akuntansi & Penerapannya Menggunakan Software
Diskon 60%+60% Khusus Selama PPKM
DISKON TERBATAS !! Sampai dengan 20 Juli 2021
× Butuh Bantuan? Available on SundayMondayTuesdayWednesdayThursdayFridaySaturday